Sang Eyang bernasihat: “Aja gumunan!”
January 11th, 2008 by dirgahayuAku bersikap: “Wek
cuih!”
Sangat membosankan membaca berita tentang
betapa parah sakitnya Sang Eyang. Tidak cukup itu saja, drama picisan dan
parade nyanyian sumbang dari segenap penjuru “lupakan, maafkan, dan doakan!” benar-benar
telah menyayat luka lama. Betapa, tidak? Pemain tonel itu, para penyanyi
sumbang itu, adalah MEREKA yang tidak merasakan betapa susahnya sebagai korban
cuci otak akibat daripada perintah Sang Eyang.
MEREKA tidak pernah merasakan akal sehat yang
dikebiri saat harus melingkari jawaban: (c)
ragu-ragu supaya lulus ulangan PSPB. MEREKA tidak wajib duduk mendengarkan
penataran P4 sejak masuk SMP, SMA, hingga kuliah. MEREKA tidak pernah merasakan
pentungan intel melayu atas perintah
Sang Eyang yang bertelinga tipis dan sedikit-sedikit main perintah gebug!
Perlu diingatkan disini, bahwa Sang Eyang mendapatkan
kekuasaanya secara licik. Mandat kekuasaannya diperoleh melalui pemutarbalikan
fakta, pemenjaraan tanpa peradilan, pembunuhan sungguh banyak nyawa yang
benar-benar melawan kemanusiaan dan biadap, serta pelarangan pulang untuk para
tunas bangsa di negri sebrang hanya karena perbedaan pandangan politik. Sayang
sekali, karena langkah awal yang salah ini didiamkan dalam ketakutan, banyak
peluang dan kesempatan untuk merdeka secara benar menjadi hilang. Sungguh picik
dan kerdil sebenarnya Sang Eyang ini.
Selain itu, saat dia menjadi Raja hanya
mementingkan orang-orang di dalam selingkup tembok rumahnya saja. Semua proyek
pembangunan (yang belum tentu berkualitas seperti rapuhnya bangunan SD INPRES!),
ujung-ujungnya pasti keluarga Cendana! Tidak itu saja, upaya pelanggengan
kekuasaanya ditopang oleh sistem demokrasi pancasila yang anggota-anggota DPR
nya banyak tidur saat bersidang dan hanya kenal lagu: “setuju….” Masih ingatkah? kalau ada pimpinan sidang
MPR termuda yang ternyata putrinya Wiranto (yang berkebaya cantik sih… , tapi …..
hahaha ….) Kroni lagi, kroni lagi. Kesempatan benar-benar hanya untuk seputar
tembok rumah sendiri!
Bapak pembangunan, eh? Siapa tuh yang
menciptakan landasan dan kebijakan ekonomi yang keropos saat diterpa badai
moneter 1997? Dan tololnya, beliau pula yang teken kontrak dengan
berbungkuk-bungkuk pada IMF. Masa sih lupa, itu kan baru 11 tahun lalu …
Aku tidak bisa membenarkan bahwa Sang Eyang
adalah Tokoh Banyak Jasa Berbintang Lima yang harus dihormati. Lewat pikiran,
tangan, dan tindakannya telah banyak nyawa melayang, ketidakadilan merajalela,
dan banyak kesempatan untuk maju menjadi hilang. Atas semua itu, sanubariku
keras menghujatkan bahwa Sang Eyang tak pantas untuk dipahlawankan (baca: sepantasnya beliau dipendosakan).
Kuteringat, saat Sultan HB IX wafat, aku
berdiri takzim melihat keranda beliau lewat menuju Imogiri. Saat Pramoedya
Ananta Toer wafat, hatiku benar-benar setengah tiang. Saat Sang Eyang wafat,
seandainya aku dapat berdiri ditepi jalan menuju Astana Giribangun, pasti aku meludah “wek cuih!” saat keranda itu lewat.