Rawon
Pagi ini aku sarapan rawon. Saat duduk menyantap, diri merasa mengulang masa lampau dimana biasanya kami makan rawon di warung Bu Kaji Lumajang. Sayang, tidak ada pisang goreng yang hangat mengepul sebagai pencuci mulut.
Sesuai judul cerpen di Kompas tahun lalu: Berat Hidup di Barat, rasanya tepat untuk menggambarkan betapa sulitnya untuk meniru kekhasan Rawon ala Lumajang saat saya ‘hidup’ di Aberystwyth. Daging halal harus kudapatkan setelah menempuh tiga jam perjalanan berkeretapi ke Birmingham. Praktis, satu hari habis masa.
Pun, daging yang ada sebenarnya cocok buat steak bukan buat rawon. Tidak ada dijual daging bergajih. Mungkin, alasan kesehatan yang dipantau ketatlah yang menyebabkan daging berlemak banyak tidak dapat dijumpai di pasar.
Atas semua itu, sarapan rawon adalah suatu perayaan.
February 10th, 2009 at 9:12 am
rawon tu paan mas?