TKW

Masih 4 jam lagi pesawat yang akan membawaku ke Jakarta terjadwalkan. Bandara Dubai tengah malam ini, cukup lengang. Malas rasanya menulusuri pusat elektronik, parfum, dan perhiasan emas.  Kurasa sudah cukup oleh-oleh kusiapkan untuk orang rumah (satu koper besar!). Kuputuskan untuk duduk menunggu saja di dekat pintu keberangkatan. Alamak, di penghujung! Dengan langkah gontai kususuri koridor.

‘hfjraafegyBXnBXCZmzvnlkewdsadz’, seseorang mencegatku.
‘Sorry. I can’t speak Arabic’.
‘Are you Philipina?’.
‘No, I am Indonesian’.
‘Have you met other Philipines?’
No, sorry!’. Dan aku terus mengeloyor pergi.

Dua gadis berlalu, namun rupanya mereka mendengar kalau aku orang Indonesia. Satu diantaranya dengan ramah menyapa, ‘Pulang ke mana?’
‘ke Yogya. Kamu?’
‘ke Cirebon’ ‘ke OKI’.
Pesawat yang mana?
Yang pukul setengah empat.
Sama. Yuk, cari tempat duduk!

‘Dimana kalau mau telpon?’, tanya gadis Ogan.
Aku tunjukkan arah sederetan telpon umum yang tadi sempat terlewati. Dengan kegirangan dia melonjak dan beranjak ke sana. ‘Titip tas, ya?’ Tentu saja kami mengangguk. (Apakah ini sebentuk nasionalisme? Apakah ini wujud ungkapan rasa senasib? Aku tidak kenal dia, bahkan belum tahu namanya. Tapi dengan mudah ada kepercayaan dan ‘rasa’ saling menjaga).

‘Kamu dari kota mana?’
‘Birmingham’ Gadis Cirebon tercenung. Dengan sigap kubertanya, ‘Kamu dari mana?’
‘Doha’.
‘Pulang habis, nih?’
‘Sama majikan diberi libur sebulan. Sebenarnya tak boleh. Tapi saya maksa. Dua tahun ini baru pulang. Kangen orang tua, bagaimana ya?’

Kuulurkan tanganku. ‘Namaku Emma, kamu?’
‘Wahyuni. Tanganmu halus sekali!’ Dengan cepat kutarik tanganku. ‘Kamu kerja apa?’
‘Sekolah’.
‘Aduh senangnya bisa sekolah. Aku tak selesai SMA.’ Ada guratan sesal yang dalam di matanya.
Lidahku kelu, aku tak mampu lagi bicara.

Wahyuni tentu jauh lebih muda dariku. Dan dia terbilang cantik, dan dari pilihan bahasanya, kutahu dia tentu siswi menonjol di kelasnya. Adalah UANG yang memupuskan harapan bersekolah, dan mendorong dia bekerja di rantau sejauh ini.

Sesaat kemudian, gadis Ogan datang. Dan mereka terlibat pembicaraan khas pekerja. Apalagi kalau tidak membandingkan gaji dan rerasan tentang para majikan. Di sini, jurang itu tak lagi terjembatani. Aku tidak dapat bergabung dalam obrolan mereka. Aku diam.

‘Welcome to Jakarta. The local time is 18:45′

Dan setelah melewati gerbang pengecekan paspor, terpampang spanduk besar: ‘SELAMAT DATANG PAHLAWAN DEVISA’. Terasa garing slogan itu! Hanya SEMBILAN JUTA RUPIAH yang dikumpulkan Wahyuni selama dua tahun dengan bekerja keras hingga tangan cantiknya menjadi kasar serta menanggung rindu pada orang tua. Uang itu diniatkan untuk menebus sawah demi menyenangkan ibunya. Namun, diujung terminal kedatangan khusus TKI, ada sistem yang dirancang untuk mengantarkan mereka ke rumah dengan ‘aman’. Yang tentu saja pelayanan itu tidak gratis, bukan? SATU SETENGAH JUTA amblas! Duh Gusti…. Panjenengan Mboten Sare, to?

Indonesia Merdeka? Belum!  Kami, sesama warga negara Indonesia tiada lah duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Masih ada diskriminasi kasta yang dilanggengkan. Pahlawan Devisa itu harus melalui pintu lain. Pintu itu berbeda dengan pintu kedatangan warga negara Indonesia lain yang habis pulang pelesir dari negeri seberang. Pun sepertinya Pahlawan Devisa itu harus dijauhkan dari para tamu negara (baca: Penanam Modal Asing).

Meski dengan dalih untuk melindungi TKW, tetap saja hal ini tidak benar. Karena jaminan untuk mendapatkan kendaraan yang aman harus meliputi semuanya. Pahlawan Devisa  juga sama berhak untuk  melewati pintu keluar terdekat dengan aman dari gangguan calo. Dan mereka pun berhak memutuskan sendiri naik kendaraan apa untuk sampai ke rumah dengan aman dan tanpa dipalak.

Kalau sistem pelayanan TKW di gerbang kampung halaman sendiri saja masih timpang semacam ini, ke mata BANGSAT SIAPA ketapel ini harus kuarahkan? IMF? Soeharto? SBY? JK? Ical? DPR? Bappenas? Depnakertrans? ???

2 Responses to “TKW”

  1. Dono Says:

    :D
    ente juga TKW perlu mbaya 1,5 jt juga nggak?

  2. Emma Dirgahayu Says:

    Mas Dono, sebelum keluar pos pengecekan paspor, aku sudah memasang topeng “MAHASISWA INDONESIA yang sedang belajar di LUAR NEGERI”. Kalau mereka berani macam-macam, nama petugasnya keesokan harinya bakal muncul di http://www.detik.com :p atau langsung saja kulaporkan KPK.

    Sayangnya, para TKW itu tidak berbekal informasi dan taktik untuk mengahadapi tembok birokrasi-kompleks di pintu gerbang rumah sendiri. :(

Leave a Reply