Parfum Maja
Friday, April 28th, 2006Parfum Maja buatan Spanyol adalah ikon kolonial yang menjangkau Lumajang.
Bagi keluarga kami, parfum Maja adalah kenangan indah.
Hadiah pernikahan dari Ayah untuk Ibuk.
******************************
Kotagede, 1985
"Aja akeh2 lek nyemprot, lenga wangi peningset!", ibuk berkata. Dan ketika parfum itu habis, tiada lagi penggantinya.
Lumajang, 1997
Aku sudah diwisuda dan mau dipamerkan oleh Ibuk pada saudara2 Lumajang. Aku berniat memberi hadiah terimakasih kepada Ibuk. Namun sayang, setelah kuteliti setiap toko di Lumajang, mereka tidak lagi menjual parfum Maja.
Rotterdam, 2001
Saat aku ke pasar Sabtu, kubaca reklame parfum: Irugia smaak als Maja. Aku coba, ya mirip, aku beli dua sekaligus.
Aku ceritakan penemuanku pada Johan vd Bremer, dia menyarankan aku untuk mengecek toko parfum.
Dia menemaniku masuk di toko ICI Paris, Etos (kelas satu), tapi memang Parfum Maja tidak dijual di sana. Bahkan gadis penjaga toko bersenyum palsu tidak mengenalnya.
Sebagai usaha terakhir, kami masuk toko Etos (kelas dua). Ajaibnya, parfum Maja terpajang di salah satu rak!!! Aku sangat bahagia hingga menitikkan airmata!! Aku langsung beli dua lagi, sesampai di kos, parfum palsu langsung masuk tong sampah!
Aberystwyth, 2006
(per telepon ke Kotagede)
"Nduk, Maja-ne wis entek. Aku golek ning WS, gak ana", ujar Ayah. (Tentu saja sudah tidak dijual lagi di Indonesia)
"Aduh, kemaren kelupaan belinya di Belanda, yah", jawabku. Ayah menanggapi, "Aku ming ngelingke." (Ini sih namanya perintah, batinku).
(per telepon ke Enschede)
"Mas Ding, tadi Ayah mengingatkan kalo parfum Maja-nya habis", pintaku. "Ok, nanti kuposkan", tanggap Mas Didingku.
***************
Jauh jalan harus kutempuh untuk mendapatkannya.
Kupersembahkan pada Ayah dan Ibuk dengan penuh penghormatan dan cinta.