MataHari di Leeuwarden.
Saat memasuki museum Leeuwarden, ada pojok Matahari. Aku langsung terlonjak, karena kukira pada mulanya ada suatu ruang tentang Indonesia.
Saat memasuki pintu ruang MataHari, memang ada spanduk vertikal dengan tema matahari. MataHari is the Eye of the Day, begitu tertuliskan. Banyak foto-foto dengan rumah jaman dahulu di kawasan Malang, Jawa Timur. Menarik.
Usut punya usut, dari alur cerita yang ada di ruang itu, ternyata ini tentang noni Belanda kelahiran Leuwarden bernama Margaretha Gertrud Zelle. Dia menjawab panggilan iklan di koran untuk menjadi istri seorang pejabat Angkatan Laut yang ditugaskan di Hindia Belanda. Jadilah dia mengikuti ’suami’nya dan hidup beberapa tahun di Malang. Sepertinya, dia bahagia di sana. Ada beberapa foto ibu-ibu kolonial dengan berbagai aktifitas gaya hidup mereka terpajang.
Nah, sebelum pecah Perang Dunia I, rupanya mereka telah kembali ke Eropa. Kurang tahu detil kronologisnya, apakah masa kontrak dengan ’suami’ telah habis atau bagaimana, jadilah noni / nyonya Belanda ini berpisah.
Dia memilih menjadi penari kabaret di Paris, dengan menggunakan nama panggung MataHari. Saat itu sedang Perang Dunia I, ternyata noni ini sangat cerdik dalam mengambil rol. Dia menjadi mata-mata ganda (Jerman, Perancis, Inggris, dan Rusia ?) dengan kode agen rahasia H-21. Akhirnya dia dieksekusi karena perannya itu.
Bagaimanapun juga, dia mengorbankan hidupnya. Selain itu, dia termasuk agen rahasia wanita yang ‘penting’ dalam masanya. Untuk menghormatinya, di kota Leuwarden ini ada patung dan ruang Matahari.
*******
Satu kalimat tentang Matahari, diabadikan dalam karya Pram di buku Rumah Kaca.
Meski aku tidak sholat ghaib untuk Pram, tapi hatiku benar-benar setengah tiang.
May 29th, 2009 at 5:40 pm
hay……
lm k,nal kunjungi aku dunk
alexanderadhitya.wrdpress.com